Jumat, 04 November 2016

Asal Usul Kiyai Gede


Kyai Gede berasal dari Kesultanan Demak dan masuk Kutaringin tahun 1595. Menurut cerita ini, Kyai Gede bernama asli Abdul Qadir Assegaf yaitu seorang ulama yang berasal dari Demak. Namun karena sikap membangkangnya, akhirnya diusir dan dibuang dari kerajaan. Oleh Sultan Demak ketika itu, Kyai Gede beserta pengikutnya dilarang melakukan peperangan pada hari jumat. Namun perintah raja ini oleh Kyai Gede dan pengikutnya tak diindahkan. Ketika melakukan peperangan, pasukannya kalah. Akhirnya dia harus menanggung konsekuensinya, dia dihukum dengan cara diasingkan dari kerajaan dan akhirnya terdampar di Kerajaan Banjar setelah sebelumnya sempat melalui Gresik. Pada masa itu, kerajaan Banjar dibawah kekuasaan Pangeran Suriansyah yang sebelum masuk Islam bergelar Pangeran Suryanata. Oleh Pangeran Suriansyah, Kyai Gede dengan didampingi Khatib Dayan diutus untuk menyebarkan Islam ke Kutaringin Barat, kala itu tahun 1595 M.
 
Dengan pengikut tak kurang dari 40 orang disertai Khatib Dayan, berangkatlah Kyai Gede menyusuri Sungai Arut hingga ke pedalaman Sungai Lamandau dan Balantik, Nanga Bulik, Sukamara. Dalam perjalannya menyebarkan Islam, akhirnya Kyai Gede bertemu dengan Pangeran Adipati Antakesuma putra Sultan Musta’inubillah Raja Kerajaan Banjar. Selanjutnya berdirilah kerajaan Kutaringin dengan Kyai Gede sebagai Mangkubumi pertamanya bergelar Adipati Gede Ing Kutaringin mendampingi Pangeran Adipati Antakesuma. Kondisi keberislaman masyarakat Kotawaringin pun akhirnya berimbas pada kebijakan penjajah Belanda menyebarkan misi zending, pasca ibukota kerajaan pindah dari Kotawaringin ke Pangkalan Bun.
Kini kerajaan kutaringin berdasarkan catatan Istana Al-nursari menjadi istana kuning yang teletak di kabupaten kotawaringin barat. Tetapi meskipun kerajaan ini pindah ke pangkalanbun kyai gede sebelum beliau wafat, ia meningalkan sejarah islam di kotawaringin yang masih utuh dan
merupakan mesjid tertua di Kalimantan tengah yang diberi nama Masjid Kiai Gede. Masjid ini meski telah berusia ratusan tahun, masih berdiri tegak dan berfungsi dengan baik hingga hari ini. Masjid ini terbuat dari kayu ulin. Uniknya lagi, bangunan masjid ini tidak menggunakan paku, melainkan menerapkan konsep lego. Selain masih berfungsi baik sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan sosial masyarakat lainnya, Masjid Kiai Gede pun menjadi tujuan wisata sejarah dan bahkan religi karena masjid kiai gede merupakan simbol sejarah yang masih bertahan hingga kini dan patut dilestarikan dan dijaga keberadaannya.
Kyai Gede adalah tokoh mula-mula penyebar agama Islam di Kotawaringin. Walau kini telah lama tiada, pengaruhnya dalam kehidupan, sangat dirasakan masyarakat setempat. Terbukti 90 persen lebih penduduk Kabupaten Kotawaringin barat, beragama Islam dengan tradisi Islam yang kental. Makam kyai gede berada di kecamatan kotawaringin lama kabupaten kotawaringin barat provinsi Kalimantan tengah, yang selalu diziarahi. Kharismanya setara Syekh Arsyad Al Banjary atau Datuk Kalampayan di Kalimantan selatan.

 

Makam Kyai Gede, Makam Keramat di Kotawaringin

20 Okt
image
Makam Kyai Gede
Kyai Gede adalah tokoh legendaris daerah Kotawaringin Barat di mana makamnya banyak diziarahi oleh masyarakat. Beliau penyebar agama Islam pertama di tempat tersebut yang bermukim lebih dahulu daripada pendiri pertama Kerajaan Kutaringin (Kotawaringin) Pangeran Antakusuma. Di kemudian hari pada masa Pangeran Antakusuma mendirikan Kerajaan Kutaringin, Kyai Gede diangkat sebagai Mangkubumi atau Perdana Menteri. Pangeran Adipati Antakesuma merupakan putra dari raja IV Kesultanan Banjar, Sultan Musta’inubillah (bertahta1650-1678). Asal-usul Kyai Gede ada 3 versi yang berbeda-beda.
Versi pertama didasarkan atas pendapat Lontaan dan Sanusi yang menyatakan bahwa Kyai Gede adalah seorang Muslim yang ditemukan terikat pada sebatang pisang pada saat pembangunan kerajaan Kutaringin. Oleh kepala suku Dayak Laman ditolong dan dirawat. Karena sikapnya yang mengerti tata tertib dan sopan santun, rakyat sangat tertarik untuk memeluk agama yang dianutnya. Selain pengetahuan agama, Kyai Gede juga mengajarkan ilmu pengetahuan perang karena beliau merupakan kyai dan pahlawan dari Majapahit. Ketika Pangeran Adipati Antakusuma mendarat di tepi Sungai Lamandau, Kyai Gede ikut menemuinya bersama dengan Demung Tujuh Bersaudara.
Versi kedua menurut legenda rakyat, pada waktu rombongan Pangeran Adipati Antakesuma mendarat di tepi Sungai Lamandau, mereka didatangi oleh rombongan Demang Tujuh Bersaudara dan Kyai Gede. Setelah kedua pihak berperang dengan kemenangan di pihak Pangeran Adipati Antakesuma, mereka sepakat mengangkat Pangeran Adipati Antakesuma sebagai raja. Kyai Gede, Demang Akar dan anaknya  Sagar masuk agama Islam. Demang Akar dan Sagar masing-masing berganti nama menjadi Demang Silam dan Selamat. Sementara keenam demang lainnya berpindah ke darat atau pedalaman Kutaringin. Menurut cerita versi ini, Kyai Gede tidak lain adalah Kyai Gade putra asli Kutaringin, bukan berasal dari Demak atau Majapahit. Dari catatan sejarah, Kyai Gade dan Pangeran Adipati Antakesuma keberadaannya tidaklah sezaman. Jika cerita versi pertama benar maka Kyai Gede memang hidup pada abad ke-16 (tahun 1595M) sedangkan Pangeran Adipati Antakesuma mendirikan kerajaan Kutaringin pada abad ke-17 pada tahun1679 (pendapat Lontaan dan Sanusi).

Versi ketiga menurut Nahan menyatakan bahwa Kyai Gede berasal dari Kesultanan Demak dan masuk ke Kutaringin pada tahun 1595. Menurut cerita ini Kyai Gede bernama asli Abdul Qadir Assegaf yaitu seorang ulama dari Demak. Karena sikapnya yang membangkang akhirnya diusir dan dibuang oleh Kesultanan. Kyai Gede dan pengikutnya dilarang melakukan peperangan di hari Jumat oleh Sultan Demak. Namun  perintah raja tidak diindahkan Kyai Gede dan pengikutnya. Ketika melakukan peperangan, pasukannya kalah. Akhirnya dia harus menanggung konsekuensinya, dihukum dengan cara diasingkan dari kerajaan dan akhirnya terdampar di kerajaan Banjar setelah sebelumnya sempat melalui Gresik. Pada masa itu Kerajaan Banjar di bawah kekuasaan Pangeran Suriansyah yang sebelum masuk Islam bergelar Pangeran Suryanata. Oleh Pangeran Suriansyah, Kyai Gede dengan didampingi Khatib Dayan diutus untuk menyebarkan Islam ke Kutaringin Barat, kala itu tahun1595M. Dengan pengikut tak kurang dari 40 orang disertai Khatib Dayan, berangkatlah Kyai Gede menyusuri sungai Arut hingga ke pedalaman sungai Lamandau dan Balantik, Nanga Bulik, Sukamara. Dalam perjalanan menyebarkan agama Islam, akhirnya Kyai Gede bertemu dengan Pangeran Adipati Antakesuma putra dari Sultan Musta’inubillah, raja Kesultanan Banjar. Selanjutnya berdirilah kerajaan Kutaringin dengan Kyai Gede sebagai Mangkubumi pertama dengan gelar Adipati Gede Ing Kutaringin mendampingi Pangeran Adipati Antakesuma.
image
Pohon Kedondong Keramat
Pohon kedondong tua di kompleks makam Kyai Gede, konon pohon tersebut juga keramat. Buah kedondongnya besar-besar dan ketika berbunga bisa berbau harum maupun busuk.
image
Batu Ikan Belida
Tak jauh di bawah pohon kedondong tua, ada situs Batu Ikan Belida. Legenda Batu Ikan Belida sangat erat kaitannya dengan hikayat kedatangan Kyai Gede di Kutaringin.
image
TK dan TPA Kyai Gede
Di dalam kompleks makam Kyai Gede terdapat sekolah TK Kyai Gede dan Taman Pendidikan Al-Qur’an.